Rabu, 20 Maret 2013

BERITA MENGANDUNG 5W+1H

Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, Internet, atau dari mulut ke mulut kepada orang ketiga atau orang banyak. Menulis berita bukan sekedar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Kualitas berita tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan yaitu 5W+1H.
5W+1H adalah singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Semua unsur inilah yang harus terkandung dalam sebuah artikel atau berita.
Contoh berita:
Memutus Rantai Tawuran Pelajar
Memprihatinkan! Mengawali tahun ajaran baru dan bulan puasa, tawuran di beberapa sekolah negeri Jakarta muncul lagi. Tawuran menunjukkan lemahnya kepemimpinan, kultur sekolah, dan ketidakhadiran negara (dalam bentuk ketidakberdayaannya aparat kepolisian) dalam menyikapi persoalan serius ini. Pendidikan karakter dalam konteks tawuran tidak bisa diatasi dengan imbauan, pembuatan kesepakatan damai antarsiswa atau sekolah, tetapi dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan komitmen dari banyak pihak. Maka, kultur pendidikan karakter yang nyaman dan aman (caring community) di sekolah tidak bisa ditawar lagi!
Tanggung jawab minim
Tradisi tawuran di SMA yang sudah terjadi bertahun-tahun menunjukkan minimnya kesadaran dan tanggung jawab pemimpin sekolah terhadap lembaga pendidikan yang dikelolanya. Memang, di sisi lain tawuran pelajar sering terjadi selepas jam sekolah, bahkan pada sore hari, sehingga secara lokalitas sudah di luar batas pagar sekolah.
Mengapa terjadi terus-menerus? Berkelanjutannya aksi tawuran ini karena para pemimpin sekolah kurang memiliki rasa tanggung jawab atas persoalan penting di sekolahnya. Tidak bisa pemimpin sekolah hanya berujar, ”Kejadian itu di luar lingkup sekolah, maka kami tidak ikut bertanggung jawab!” Sikap seperti ini mengerdilkan tanggung jawab pemimpin pendidikan dalam membentuk karakter siswa.
Pendekatan ritual, yang menekankan pembuatan kesepakatan damai antarpihak sekolah yang berselisih, tidak akan efektif karena perubahan untuk pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan selembar kertas yang ditandatangani bersama. Yang dibutuhkan adalah pembelajaran bersama antarsekolah dan antarsiswa tentang pentingnya membangun sikap damai dan menghargai individu itu sebagai makhluk bermartabat, bukan benda atau barang yang bisa dirusak setiap saat.
Kultur sekolah lemah
Selain unsur kepemimpinan, pendidikan karakter yang efektif akan terjadi ketika setiap individu dalam lembaga pendidikan merasa aman dan nyaman bersekolah. Tanpa perasaan itu, prestasi akademis siswa akan menurun. Siswa juga tidak dapat belajar dengan baik karena selalu dihantui rasa waswas, apakah mereka akan selamat saat berangkat atau pulang sekolah.
Perasaan aman dan nyaman akan muncul bila setiap individu yang menjadi anggota komunitas sekolah merasa dihargai, dimanusiakan, dan dianggap bernilai kehadirannya dalam lingkungan pendidikan. Masalahnya adalah, budaya kekerasan telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat kita, menggerus kultur sekolah dengan wujud yang berbeda. Misalnya, ketika lembaga pendidikan menerapkan sistem katrol nilai, di sini telah terjadi ketidakadilan dan pelecehan terhadap kinerja individu. Mereka yang gigih belajar dan mendapatkan nilai baik, tidak berbeda dengan yang tidak gigih belajar, malas, karena mereka dikatrol sehingga nilainya juga baik.
Kultur sekolah ini sesungguhnya bertentangan dengan prinsip penghargaan terhadap individu. Individu telah dimanipulasi sebagai alat pemenangan nama baik sekolah melalui sistem katrol. Dengan demikian, sekolah seolah-olah memberi citra bahwa pendidikan di sekolah itu baik dan ini terbukti dari kelulusan atau kenaikan kelas 100 persen.
Menghargai individu sesuai dengan harkat dan martabatnya, serta menghargai sesuai dengan jasa dan usahanya dalam belajar, merupakan sebentuk praktik keadilan. Praksis keadilan yang terjadi dalam lingkungan pendidikan akan membuat individu itu nyaman dan semakin termotivasi dalam meningkatkan keunggulan akademik. Ketika kebanggaan pada kualitas akademis berkurang, siswa mencari pembenaran dengan penghargaan diri palsu di luar, termasuk tawuran.
Ketidakhadiran negara
Fenomena tawuran menjadi indikasi jelas bahwa negara tidak hadir, bahkan cenderung membiarkan dan mengafirmasi kekeliruan pemahaman bahwa bila suatu tindak kejahatan dilakukan bersama-sama, maka hal ini dapat dibenarkan.
Ketika aparat kepolisian hanya diam saja berhadapan dengan kegarangan siswa yang membawa golok, rantai, dan bambu runcing di jalanan, saat itulah sebenarnya aparat kepolisian menelanjangi diri dan menunjukkan bahwa negara absen.
Pendidikan karakter yang efektif mensyaratkan peran serta komunitas di luar sekolah sebagai rekan strategis dalam pengembangan pendidikan. Karena itu, peran serta komunitas, seperti media, orangtua, aparat kepolisian, pejabat pemerintah, dalam upaya mengikis perilaku tawuran sangatlah diperlukan. Negara seharusnya tetap hadir dan menjadi pendidik masyarakat untuk menaati ketertiban dan hukum.
Untuk mengatasi persoalan tawuran dan menghentikan rantai kekerasan, kiranya ada beberapa solusi.
Pertama, kehadiran negara sangat diperlukan agar pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan semakin efektif. Untuk mengatasi tawuran pelajar, ketegasan aparat sangat diperlukan karena kebiasaan tawuran itu membahayakan diri dan orang lain. Kepolisian harus bekerja sama dengan sekolah untuk mengembangkan budaya tertib hukum dan taat aturan. Sikap reaktif, menangkap pelajar yang terlibat tawuran, memang dibutuhkan, tetapi sikap preventif- edukatif melalui kerja sama dengan pihak sekolah lebih penting karena akan mengatasi persoalan pada akarnya.
Kedua, sikap tegas pemerintah. Pemerintah juga perlu bersikap tegas terhadap unsur kepemimpinan sekolah, baik itu di sekolah negeri maupun swasta. Pimpinan sekolah yang sekolahnya selalu terlibat tawuran perlu diganti karena kepemimpinan mereka terbukti tidak efektif.
Namun, pemerintah juga perlu hati-hati mengganti unsur kepala sekolah karena di dalam lingkungan sekolah pun bisa jadi ada persaingan tidak sehat yang memanfaatkan tawuran sebagai usaha memancing di air keruh demi kepentingan pribadi.
Peran komunitas sekolah
Ketiga, pendidikan karakter akan efektif kalau seluruh komunitas sekolah merasa dilibatkan. Ini berarti, mulai dari penjaga keamanan, tukang kebun, pegawai kantin sekolah, guru, karyawan nonpendidikan, staf guru, kepala sekolah, dan lain lain, harus mengerti tugas dan tanggung jawab mereka, terutama yang terkait dengan pengembangan kultur cinta damai dalam lembaga pendidikan.
Perilaku kekerasan terhadap fisik orang lain merupakan bentuk nyata tidak dihargainya individu sebagai pribadi yang bernilai dan berharga. Pendidikan mestinya mengajarkan bahwa setiap individu itu berharga dan bernilai dalam dirinya sendiri.
Siapa pun tidak pernah boleh memanipulasi dan mempergunakan bahkan merusak tubuh orang lain dengan alasan apa pun. Tawuran pelajar merupakan tanda bahwa penghargaan terhadap tubuh di lingkungan pendidikan kita masih lemah. Padahal, penghargaan terhadap tubuh ini merupakan salah satu pilar keutamaan bagi pengembangan pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh.
Source: Wikipedia & BeritaKaget.com

Senin, 11 Maret 2013

Komputer Lembaga Keuangan Perbankan

Pengantar
Uang berfungsi sebagai alat tukar, satuan hitung, dan pembanding kekayaan seseorang, hal ini semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pada kehidupan setiap orang. Dalam kehidupan ini terdapat dua masalah yang menyangkut hal tersebut, yaitu yang pertama atau sebut saja “A” adalah seseorang yang selalu merasa tercukupi dengan apa yang ia dapatkan atau juga bahkan merasa lebih, pada kasus ini ia mungkin memiliki kebutuhan yang lebih sedikit dibandingkan penghasilan yang didapat, baik orang tersebut berpenghasilan besar ataupun kecil. Sedangkan pada masalah kedua atau bisa disebut “B” adalah seseorang yang selalau merasa kekurangan akan hasil yang diperoleh, tak menutup kemungkinan kasus ini terjadi pada ia yang sudah berpenghasilan besar sekalipun, hal ini bisa jadi dilatarbelakangi oleh gaya hidup atau kebutuhan-kebutuhan lain dalam kehidupannya.
Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara “B” dapat melakukan pinjaman terhadap “A” untuk memenuhi kebutuhannya, hal ini bisa dikatakan sebagai penyeimbang atau penyalaras dalam hidup. Kegiatan seperti ini pun tidak dapat dilakukan begitu saja, tentunya terdapat hal yang mendasari hingga bisa terlaksana yaitu TRUST dan FOUND, atau juga kedua hal yang melatarbelakangi tersebuat dapat dikatakan DOUBLE CONCIDENCE. Tetapi juga kegiatan seperti ini memiliki sisi negatif, yaitu seandainya “B” mengalami kebangrutan dan tak bisa membayar pinjaman pada “A” maka tidak ada pihak yang bertanggung jawab karena kegiatan ini hanya mengandalkan hal yang melatarbelakangi kegitan tersebut, dengan kata lain mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak yaitu pihak “A”.
Agar terhindar dari kerugian pada salah satu pihak maka diperlukan penghubung untuk melakukan kegiatan itu, yakni yang dimaksud sebagai penghubung ialah “BANK”, ini semua ditujukan untuk menjamin kepercayaan dan menjaga kestabilan hingga tak terjadi kerugian pada pihak manapun. Kegiatan ini dilakukan dengan cara “A” baik sengaja atau tidak melakukan peminjaman kepada “B” dengan cara menabungkan uangnya di bank, ini dapat di simbolkan (i1). Sedangkan “B” meminjam uang pada A melalui BANK, atau juga disimbolkan (i2). Kegiatan tersebut maka dapat dirumuskan (π = i2 – i1).
Terkadang pihak penghubung (BANK) melakukan pemanfataan yang berlebihan hingga mengurangi kenyamanan pihak-pihak terkait, misalnya dengan memberikan suku bunga yang rendah pada penabung dan memberikan bunga pinjaman yang cukup besar kepada peminjam, hal ini tentulah sangat menguntungkan bagi BANK sebagai penghubung tetapi merugikan pihak lainnya. Maka atas dasar itu terjadi interaksi lain yaitu dalam “PASAR MODAL”, dimana kembali terjadi hungan langsung antara “A” dan “B” yang tentunya dengan persyaratan yang berbeda dari kegiatan pertama, dimana kali ini terdapat surat penguat pertanggung jawaban sehingga nilai uang dapat terjaga. Surat-surat tersebut yaitu berupa “SAHAM” yang terdiri dari deviden dan capital gain, dan yang kedua berupa “OBLIGASI” yang bersifat disconto. Kejadian ini bisa dilambangkan dengan (i3), dan dari kegiatan-kegiatan yang terjadi maka dapat digambarkan ( i1 < i3 < i2 ).
Dari keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan hidup orang atau masyarakat demi mencapai kesejahteraan yang maksimal maka dapat terlihat dan disimpulkan maka akan begitu banyaknya uang yang beredar dimasyarakat dalam suatu negara, dan solusi untuk menanggulangi hal demikian ini yaitu negara harus menekan peredaran uang dimasyarakat dengan mengambil langkah kegiatan kedua yaitu memberi penghubung antara masyarakat tipe “A” dan “B” yaitu BANK. Untuk membuat kenyamanan sehingga masyarakat tetap menggunakan jasa penghubung atau BANK maka harus menaikan suku bunga tabungan dan menurunkan bunga pinjaman.

Kamis, 17 Januari 2013

Wakil Rakyat

Intro : C
C F C
Untukmu yang duduk sambil diskusi
C G C
Untukmu yang biasa bersafari
F Dm C
Di sana, di gedung DPR
Wakil Rakyat kumpulan orang-orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili
G F
Di hati dan lidahmu kami berharap
G C
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
G F
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
G C
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
F C G C
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Meroke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam juara he’eh
Juara ha ha ha
intro : C F C
C F G
C Bb C
C F 2x
Back to top
C Am C Am
Wakil Rakyat seharusnya merakyat
Dm F G C
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
C Am C Am
Wakil Rakyat bukan paduan suara
Dm F G C
Hanya tau nyanyian lagu setuju
by: Iwan Fals
source: chord frenzy

Kemesraan

Intro : C F G C
C F
Suatu hari dikala kita duduk ditepi pantai
Dm F C
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi
C C7 F
Burung camar terbang bermain diderunya air
G F G C
Suara alam ini hangatkan jiwa kita
C F
Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Dm G C
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
C C7 F
Ada hati membara erat bersatu
G F G C C7
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu
reff
F G C
Kemesraan ini... janganlah cepat berlalu
F G C
Kemesraan ini... inginku kenang selalu
Dm G C
Hatiku damai... jiwaku tenang disamping mu
Dm G C
Hatiku damai... jiwa ku tentram bersamamu
by: Iwan Fals
source: chord frenzy

Bongkar

Intro: Em
Em
Kalau cinta sudah di buang
C Em
Jangan harap keadilan akan datang
Em
Kesedihan hanya tontonan
C Em
Bagi mereka yang di perbudak jabatan
(*)
C Em
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
C Em
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
Em
Sabar, sabar, sabar dan tunggu
C Em
Itu jawaban yang harus kami terima
Em
Ternyata kita harus ke jalan
C Em
Robohkan setan yang berdiri mengangkang
Kembali ke : (*)
Reff I :
G
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Am C Em
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
G
Hoi hentikan, hentikan jangan di teruskan
Am C Em
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan
C Em
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
C Em
O, o, ya o … ya o … ya bongkar
Reff II :
G
Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Am C Em
Sebab dirumah tiada lagi yang bisa dipercaya
G
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Am C Em
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
lnt : Em
Kembali ke: (*), Reff I, Reff II
by: Iwan Fals
source: chord frenzy

Ibu

Intro : F#m D Bm F#m
F#m D F#m
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
D Bm C#7 F#m
Lewati rintang untuk aku anakmu
F#m D F#m
Ibuku sayang masih terus berjalan
D Bm C#7 F#m
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
A B D F#m
Seperti udara kasih yang engkau berikan
A B D F#m
Tak mampu ku membalas Ibu… ibu…
F#m D F#m
Ingin ku dekat dan menangis dipangkuanmu
D Bm C#7 F#m
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
A B D F#m
Lalu doa doa baluri sekujur tubuhku
A B D F#m
Dengan apa membalas Ibu… ibu…
by: Iwan Fals
source: chord frenzy

Yang Terlupakan

Intro : D A Bm A
G D Em G Gm D
D A Bm A
Denting piano kala jemari menari
G D Em G
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Gm D
Saat datang rintik hujan
F#m Bm
bersama sebuah bayang
G A D A G
Yang pernah terlupakan
(*)
D A Bm A
Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
G D Em G
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Gm D F#m Bm
Seperti menjelma waktu aku tertawa
G A D
Kala memberimu dosa
D D/C# Bm A Bm A D
Da..ra O....maafkanlah
A Bm A G
Da..ra O....maafkanlah
Chorus :
D F#m Bm A
Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
D F#m Bm A
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
G Gm D Bm
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
G A D
Namun senyum mu tetap mengikuti
D F#m Bm G F#m Em 2X end A
La la la
Back to : (*)
Int : A Bm A D A Bm G
by: Iwan Fals
source: chord frenzy